Loading...
QURBAN

Menghadiahkan Pahala Qurban untuk Orang Lain

5 July 2021

Menyembelih hewan qurban pada hari Raya Idul Adha sudah menjadi tradisi tersendiri bagi umat islam. Hal ini bermula dari kisah Nabi Ibrahim a.s dan putranya Nabi Ismail a.s.

Mempunyai finansial yang cukup sehingga dapat melaksanakan ibadah qurban adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi setiap umat muslim karena hewan yang dijadikan qurban akan memberikan kesaksian diakhirat kelak serta setiap bulu/rambut dan tetesan darahnya menjadi pahala. Namun bagaimana jika qurban diatasnamakan orang lain? Apakah pahalanya bisa sampai kepada orang tersebut?

Syariat memberikan ketentuan kurban melihat jenis hewannya. Kambing untuk satu orang, sapi dan unta untuk tujuh orang. Bila melebihi kapasitas yang telah ditentukan, semisal kurban kambing untuk dua orang, sapi untuk delapan orang, maka qurban dinilai tidak sah.  Persoalan menghadiahkan qurban untuk orang lain berbeda dari qurban bersama (patungan). qurban patungan status sohibul qurbannya adalah seluruh anggota yang tergabung dalam iuran hewan kurban. Sementara perihal memberikan hadiah qurban, sohibul qurban yang mengeluarkan dana, dan orang lain itu diikutsertakan dalam pahala qurbannya, bukan diikutkan dalam status sohibul qurban.

Oleh sebab itu, perihal menghadiahkan pahala qurban, tidak ada pembatasan jumlah orang yang diikutsertakan dalam pahala qurbannya shohibul qurban, semisal satu orang berqurban satu ekor kambing, pahalanya dihadiahkan untuk tujuh orang keluarganya itu diperbolehkan. Oleh sebab itu, ulama menjelaskan bahwa doa Nabi saat beliau berkurban, “Ya Allah kurban ini untuk Muhammad dan umat Muhammad”, dan perkataan Abu Ayyub, “Dahulu kami di masa Nabi menyembelih satu ekor kambing untuk diri sendiri dan keluarganya” (HR. Tirmidzi no. 1425 dan Ibnu Majah no. 3138) konteksnya adalah menghadiahkan pahala kurban untuk orang lain, bukan mengikutkan orang lain dalam status sebagai shohibul qurban. 

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum boleh dan tidaknya berqurban untuk orang lain baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal,

Menghadiahkan pahala qurban untuk orang mati

Para ulama mazhab Syafi'i berpendapat bahwa tidak ada ketentuan qurban bagi orang yang sudah meninggal, kecuali apabila ia berwasiat ingin berqurban. Jadi berqurban bagi orang yang sudah meninggal diperbolehkan selama orang yang sudah meninggal dahulu pernah berwasiat untuk diqurbankan. Pendapat ini merujuk pada penjelasan dari Imam Muhyiddin Syarf an-Nawawi, ulama dari mazhab Syafi'i, dalam kitab Minhaj ath-Thalibin. 

"Tidak sah berkurban untuk orang lain [yang masih hidup] tanpa seizinnya, dan tidak juga untuk orang yang telah meninggal dunia apabila ia tidak berwasiat untuk diqurbani." (hlm. 321).

Para ulama mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali berpendapat bahwa berqurban untuk orang yang sudah meninggal sah hukumnya karena dimaksudkan sebagai sedekah. Jika qurban untuk orang yang sudah meninggal dunia dianggap sedekah, maka bersedekah untuk orang yang sudah meninggal hukumnya sah dan pahalanya bisa sampai kepada yang diqurbani. Pendapat ini merujuk pada riwayat mengenai qurban yang dilaksanakan Ali bin Abi Talib RA: "Bahwasanya Ali RA pernah berkurban atas Nabi Muhammad SAW dengan menyembelih dua ekor kambing kibasy. Dan beliau berkata: Bahwa Nabi SAW menyuruhnya melakukan yang demikian." (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dan Baihaqi).

Menghadiahkan pahala qurban untuk orang hidup

Menurut pendapat dari beberapa ulama, berqurban untuk orang lain terdapat dua ketentuan :

  1. Jika orang tersebut ingin berqurban untuk orang yang masih anggota keluarga, maka berkurban atas nama anggota keluarga tersebut diperbolehkan tanpa harus meminta izin terlebih dahulu. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW yang pernah berqurban atas nama istri-istrinya tanpa meminta izin mereka terlebih dahulu.
  2. Jika orang tersebut ingin berqurban untuk orang yang bukan anggota keluarga, maka dia harus minta izin mereka terlebih dahulu. Apabila orang tersebut mengizinkan, maka dia boleh melakukan qurban atas nama orang tersebut. Sebaliknya jika tidak ada izin maka tidak boleh dilakukan. Hal ini sesuai pernyataan Syaikh Wahbah Azzuhaili dalam kitabnya Alfiqhul Islami wa Adillatuhu: Ulama Syafiiyah berkata; "Tidak boleh berkurban untuk orang lain tanpa seizin dari orang tersebut.”

Diatas adalah perbedaan pendapat mengenai ibadah qurban untuk orang lain yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Jadikan perbedaan pendapat para ulama sebagai pengetahuan dan rahmat, jangan jadikan sebagai penghalangan untuk sahabat berqurban.

Jika sahabat ingin berqurban untuk orang tua yang telah meninggal dunia, maka sahabat bisa mengikuti pendapat ulama yang kedua, seperti dijelaskan di atas. Bahwa berkurban dalam hal ini dimaksudkan sebagai sedekah, sedangkan bersedekah untuk orang yang telah meninggal dunia adalah sah dan bisa memberikan kebaikan kepadanya, serta pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana yang telah disepakati oleh para ulama.


Sahabat, Solusi Zakat melalui program BHQ menyediakan hewan qurban sapi mandiri, sapi kolektif, dan domba untuk sahabat yang ingin berqurban. Hewan qurban di beli langsung dari peternak desa dan untuk daging sapi akan diolah oleh masyarakat pemberdayaan menjadi abon sehingga selain berqurban sahabat juga ikut membantu perekonomian masyarakat desa. Daging domba dan olahan daging sapi kemudian akan didistribusikan ke daerah yang langka adanya qurban dan daerah terdampak pandemi.

Selain nggak ribet dan tetap sesuai syariat, harga hewan qurban di solusi zakat juga sangat terjangkau.

Cukup Rp 2.600.0000 sahabat telah berbagi qurban sapi kolektif, dan dapatkan 10 pcs Abon Qurban. Sedangkan harga kambing qurban hanya Rp 1.950.000. Biaya ini sudah termasuk biaya operasional.

Jadi tunggu apalagi, yuk qurban sekarang!! Klik di Sini
 

Artikel Terkait